Panggilan Hikmat

Bacalah Amsal 1:20, 21. Bagaimanakah hikmat dipaparkan di sini? Apakah yang sedang disampaikan kepada kita? 

" Sementara orang-orang berdosa "menghadang" dan “mengintai’? (Ams. 1:11,18), hikmat “berseru nyaring di jalan-jalan" (Ams. 1:20), "bereru-seru di atas tembok" (Ams. 1:21), dan "mengucapkan kata-katanya" (Ams. 1:21). Di sini hikmat dipersonifikasikan, penawarannya diberikan kepada pria dan wanita dijalan. Itu adalah bagi semua orang dalam urusan kehidupan nyata. Di tengah keributan dan kebencian begitu banyak produk dan begitu banyak penjual, namun panggilan hikmat haruslah kuat; jika tidak, ia tidak akan didengar melawan teriakan suara-suara lainnya begitu banyak. 

Bacalah Amsal 1:22-32. Apakah akibat menolak hikmat? Alasan bahwa orang menolak hikmat tidak ada hubungannya dengan hikmat itu sendiri dan segala sesuatu yang

berkaitan dengan karakter orang-orang yang menolaknya. Di sini digambarkan sebagai kesombongan dan memandang hina (Ams. 1:25, bandingkan dengan ayat 30), seolah-olah mereka mengetahui lebih baik. Implikasinya adalah bahwa hikmat bagi yang naif dan tak berpengalaman. Dan mereka yang menolak hikmat adalah tak berpengalaman dan naif mereka adalah orang bebal yang “membenci pengetahuan" (Ams. 1:22, NKJV bandingkan dengan ayat 29). 

    Mereka yang menolak hikmat akan menuai buah dari penolakan mereka. Setelah menolak untuk takut akan Tuhan, mereka akan puas dengan diri mereka sendiri: maka mereka akan "kenyang olah rencana mereka" (Ams. 1:31, — NKJV). Saat kita menolak hikmat yang dari atas, kita sering berakhir pada dongeng-dongeng dan dusta-dusta yang orang lain buat bagi kita dan kita begitu mudah menerimanya.
    Dengan cara ini, kita menggantikan Allah dengan berhala-berhala Ironisnya, mereka yang menganggap hina agama, mengolok-olok orang yang mereka anggap tidak berpengalaman dan naif sering bertakhyul dengan cara mereka sendiri, menempatkan nilai pada sesuatu yang paling cepat berlalu dan tak bermanfaat daripada hal-hal yang, pada akhirnya, tidak pernah memuaskan kebutuhan hati yang mendasar. Bacalah Amsal 1:33. Mengingat konteks yang  muncul sebelumnya, apakah janji dan pengharapan yang ditemukan di sini bagi kita? Bagaimanakah janji ini diwujudkan dalam pengalaman kita sendiri?
 
RENUNGAN GMAHK © 2016. All Rights Reserved. Powered by Blogger
Top
close
Banner iklan