Renungan Harian Pagi Jumat 31 Juli 2015

Teknik Aseptik 

"Setiap orang yang kena kepada barang-barang itu menjadi najis" (Imamat 15:27).


Dibutuhkan pengetahuan yang cukup dan praktik yang berulang-ulang untuk membuat orang dapat berhasil menyelesaikan tugas mensterilkan suatu media atau bidang tanpa mengalami kontaminasi. Bekerja dengan aseptik adalah keterampilan yang saya ajarkan kepada mahasiswa saat melakukan percobaan dengan bakteri atau ketika melakukan kultur jaringan hewan atau tanaman. Dalam setiap ruangan operasi modern, teknik aseptik sangat penting untuk mencegah kontaminasi dan potensi infeksi setelah operasi.

Anda tahu bahwa bakteri, spora jamur, virus, dan potensi kontaminan lainnya mengintai di mana mana di sekitar kita, pada kulit kita, dan.bahkan dalam tubuh kita. Temuan baru-baru ini tentang bakteri menunjukkan bahwa kita masing-masing adalah mikrokosmos organisme yang bergerak dengan lebih banyak bakteri di dalam diri kita yang jumlahnya lebih banyak daripada jumlah manusia yang pernah hidup di bumi ini Untungnya, Tuhan telah memberikan kepada kita beberapa baris pertahanan menjaga bakteri.

“Steril” atau “aseptik” adalah kata kata yang secara sederhana berarti ketidakhadiran kehidupan di permukaan atau dalam daerah operasi. Kehadiran bakteri hidup disebut sepsis. Dengan sepsis, bakteri yang hadir, cepat tumbuh, berkembang biak, mensekresi racun, menyebabkan kerusakan dan akhirnya bernanah dan membusuk. Mahasiswa dengan cepat menemukan bahwa tidak ada yang hampir steril atau hampir aseptik. Sterilitas bukan masalah tingkatan. Sebaliknya, itu adalah situasi. Mahasiswa saya juga harus mengetahui setiap saat apakah itu kotor (septik) dan apakah itu bersih (aseptik) dan tidak pernah membiarkan keduanya saling bersentuhan. Hukum yang ketat ini tidak mengizinkan yang kotor menyentuh yang bersih dan haruslah tetap dipegang, karena bila yang kotor menyentuh yang bersih, maka yang bersih menjadi kotor. Di dalam lab kultur jaringan atau di meja operasi, ketika yang bersih menyentuh yang kotor, yang kotor tidak pernah menjadi bersih karena yang bersih hampir selalu menjadi kotor.

Pengecualian favorit saya untuk aturan ini adalah kisah yang Lukas ceritakan pada akhir pasal 8. Wanita yang memaksa masuk ke kerumunan itu najis karena pendarahan yang dialami selama bertahun-tahun. Hukum Ibrani ketat. Jika Anda mengalami pendarahan yang keluar dari diri Anda, maka Anda najis. Dan Anda tidak boleh menyentuh siapa pun, karena Anda akan membuat mereka najis juga. Dapatkah Anda bayangkan terisolasi dan kesepian, serta tidak adanya sentuhan manusia? Dia melanggar hukum dengan menyentuh ujung jubah Yesus. Dan dalam kisah iman yang indah ini, kemurnian Yesus langsung menyucikan wanita itu. Pengecualian terjadi. Yang najis menyentuh yang bersih dan menjadi bersih juga. Oh, betapa saya rindu hal itu terjadi kepada saya!

Yesus, saya membutuhkan sentuhan-Mu yang membersihkan. Murnikanlah hati saya sekarang.

0 komentar :

Post a Comment

 
RENUNGAN GMAHK © 2016. All Rights Reserved. Powered by Blogger
Top
close
Banner iklan