"Untuk yang Paling Hina Ini..."

Yomali Wijusndra & Chathua

Yomali, seorang anak perempuan berumur 14 tahun, mengingat masa kecilnya ketika keluarganya sangat bahagia. Namun kemudian ayahnya berselingkuh, sehingga tidak ada lagi kedamaian dan keharmonisan di dalam rumah. Orangtuanya selalu bertengkar. Suatu hari, Yomali melihat dengan ketakutan ketika ayahnya mendorong ibunya hingga jatuh ke dalam sumur yang dalam. Untuk menutupi perbuatannya ini, ayah dan saudara-saudaranya memutuskan untuk mengatakan kepada orang-orang bahwa ibu Yomali sudah pergi mengadakan perjalanan jauh keluar dari desa mereka. Tetapi beberapa saat kemudian, polisi datang untuk mencari ibunya. Sementara polisi terus-menerus mengajukan pertanyaan kepada ayah Yomali, ia menjadi sangat takut dan mencoba untuk loncat masuk ke dalam sumur, namun kemudian memutuskan untuk melarikan diri. Ia berhasil melarikan diri dari polisi, tetapi meninggalkan Yomali tanpa seorang ayah dan ibu.

Polisi itu mengantarkan Yomali ke panti asuhan anak, namun tidak ada anak-anak seumuran Yomali di sana, jadi mereka mengantarnya ke panti asuhan yang lain dengan anak-anak sebayanya. Meskipun takut, Yomali menunjukkan frustrasinya dengan tidak menuruti aturan di rumah panti asuhan itu.

Dia tidak masuk ke rumah pada malam hari dan sering bersembunyi di pepohonan. ibu panti asuhan benar-benar tidak dapat mengendalikannya. Mereka mendengar tentang sebuah pelayanan Advent bernama International Children's Care (ICC), dan bagaimana disiplinnya anak-anak yang berada di sana. Ibu panti asuhan ini memutuskan untuk mengirim Yomali ke tempat itu dan melihat apakah ICC dapat mengendalikan anak yang "liar" ini.

Ketika dia tiba di ICC, Yomali memerhatikan bahwa ada perbedaan yang sangat besar dan dia sangat menyukainya. Mereka mulai menceritakan kepadanya tentang Yesus dan mengajarinya cerita-cerita Alkitab. Dia sangat menikmati semua cerita-cerita tersebut, dan cerita tentang Ayublah yang sangat menyentuhnya.

Dengan berjalannya waktu, hati Yomali menjadi tenang dan ia mulai mencintai Allah. Sekarang ia senang berkebun dan mempunyai sepetak tanah yang ia kerjakan. Ia percaya bahwa dengan rajin dan konsisten merawat tanaman, itu akan menghasilkan hasil yang baik. Dia juga belajar bahwa hal yang sama terjadi ketika kasih Kristus bertumbuh di dalam hati kita sehingga kita juga dapat berbuah bagi-Nya. Yomali berharap suatu saat nanti menjadi seorang misionari dan pergi ke mana pun Tuhan mengirimnya.

Sebuah Hidup yang Lebih Baik
Chathua dilahirkan dengan cacat lengan.Gantinya membawanya ke rumah, ibunya meninggalkannya dengan paman dan bibinya. Mereka dengan senang mengambil Chathua untuk bergabung dalam keluarga mereka dengan dua anak laki-laki mereka.

Keadaan berjalan cukup baik baginya. Dia mencintai paman, bibi, dan sepupu-sepupunya dan pergi ke Gereja Advent Jemaat Light-house bersama-sama. Dia senang tinggal di kota yang indah di Kandi yang terletak di puncak bukit Sri Lanka. Paman dan bibinya juga menolong dia mengikuti perawatan bagi lengannya agar dia dapat belajar menggunakannya untuk mengerjakan aktivitasnya setiap hari. Semua terlihat baik bagi Chathua, hingga sebuah tragedi melanda hidupnya. Pamannya meninggal dunia. Semua saudara-saudaranya syok, dan bibinya merasa terlalu berat mengurusi 3 orang anak laki laki.

Tidak lama kemudian mereka bertemu dengan seorang laki laki yang mengatakan kepada mereka tentang ICC di Lakpahana. Bibinya kemudian memutuskan untuk mengirim Chathua ke sana agar dia hanya mengurusi dua orang anak. Perasaan Chathua campur aduk namun dia harus menurut kepada bibinya. Dia berpikir lebih baik dia pergi ke ICC daripada tidak ada seorang pun yang peduli kepadanya.

Sedikit yang Chathua tahu, bahwa ketika ia datang ke ICC, hidupnya akan berubah menjadi lebih baik. Ia dapat menggunakan lengannya yang cacat, dan sementara ia belajar tentang Allah, ia mulai memuji Tuhan karena telah membuat lengannya jauh lebih baik.

Sekarang Chathua senang bekerja dengan tangannya. Dia mengambil barang-barang bekas dan mengubah mereka menjadi barang-barang yang indah dengan ide kreatifnya. Dia bermimpi untuk mengajarkan keahlian yang Tuhan berikan kepada orang lain. Dia juga senang melihat burung, dan dia terkagum-kagum atas desain yang rumit dan pola yang berwarna-warni. Ayat Alkitab kesayangannya terdapat dalam Mazmur 23 yang mengatakan bahwa Tuhan adalah gembalanya. Dia telah belajar untuk memercayai Tuhan sebagai gembalanya dan menyediakan apa yang dia butuhkan. Dia percaya bahwa Tuhan menjaganya sama seperti gembala menjaga domba-dombanya.

Chathua dapat menyesuaikan dengan baik di ICC dan sekolahnya. "Saya ingin belajar dengan sungguh-sungguh, dan memeroleh nilai yang bagus," dia berkata. "Ini telah menjadi salah satu dari doa-doanya sejak lama. Saya berdoa untuk hikmat dan agar Tuhan memberkati studi saya. Saya perhatikan bahwa hari demi hari saya berada disini, nilai-nilai saya meningkat dan Tuhan menjawab doa saya." Kelas yang paling menantang yang Chathua ambil ialah kelas matematika, tetapi ia terus berdoa untuk hikmat setiap hari, dan Tuhan telah menolongnya-bahkan dengan matematika sekalipun.

0 komentar :

Post a Comment

 
RENUNGAN GMAHK © 2016. All Rights Reserved. Powered by Blogger
Top
close
Banner iklan