Murbei 

"Akulah pokok anggur dan kamulah ranting-rantingnya. Barangsiapa tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak, sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa" (Yohanes 15:5).

      Musim murbei berlangsung selama berminggu-minggu di akhir musim semi dan awal musim panas, yang banyak dihasilkan semak-semak hutan. Kapan saja berpikir tentang "banyak buah" murbei muncul di pikiran saya. Sangat mudah melihat murbei matang karena buah-buah itu mudah jatuh, membuat bercak hitam dan memberi noda gelap pada trotoar, mobil, dan jalan-jalan. Burung-burung dan hewan lain suka makan buah ini, dan kotoran hewan menambah noda. Selama perjalanan pagi saya, saya sering beristirahat di bawah cabang yang berbuah lebat untuk memilih segenggam buah karena murbei begitu manis dan beraroma. Hanya segenggam penuh buah lezat ini akan membuat tangan dan mulut saya hitam. Tetapi karena pigmen anthocyanin larut dalam air, warnanya akan terbasuh dengan cepat.
    Meskipun nama botani dalam Alkitab bervariasi, Alkitab menyebutkan pohon murbei, dan kita tahu bahwa tumbuhan ini berkembang di seluruh Palestina hingga hari ini. Terna ini tumbuh pesat pada fase awal, kemudian akan merambat, itulah sebabnya mengapa Anda jarang melihat pohon murbei yang tinggi. Selain hitam, ada juga murbei varietas merah dan putih. Murbei putih tumbuh sebagai makanan untuk ulat sutra, karena daunnya satu—satunya makanan yang cocok bagi ulat sutra. Suatu kali kami membentangkan selembar plastik besar di bawah pohon murbei dan mengguncang cabang-cabangnya.
      Hujan buah matang sangat mengesankan. Kemudian, supaya aman menjangkau dan menggoyang cabang yang lebih tinggi, saya menggunakan galah pemangkas fiberglass teleskopik. Alat itu bekerja dengan baik sehingga saya dengan tidak sengaja memangkas salah satu cabang yang tinggi, dan jatuh ke lembaran plastik kami. Setelah membersihkan cabang itu, saya melemparkannya ke rerumputan. Ketika saya melewatinya beberapa hari kemudian, saya melihat bahwa daun di cabang yang terputus tanpa sengaja itu telah mengering dan berwarna cokelat. Segera saya memikirkan ayat hari ini. Dan saya berpikir betapa cepatnya saya kehilangan kehidupan rohani ketika saya melepaskan diri dari Sumber kehidupan. Yohanes berbicara tentang tetap terhubung, menyiratkan bahwa saya adalah seseorang yang memiliki pilihan apakah tersambung atau tidak.

      Tuhan, saya memilih untuk tetap tersambung dengan-Mu hari ini sehingga rohani saya hidup dan tidak akan layu dan mati. Saya ingin menjadi cabang yang berbuah.

0 komentar :

Post a Comment

 
RENUNGAN GMAHK © 2016. All Rights Reserved. Powered by Blogger
Top
close
Banner iklan